23.2.10

Jejak Hitler di Indonesia

Posted on 14:01 by lafa

Dokter GA Poch yang meninggal di Surabaya tahun 1970 lalu diduga sebagai Adolf Hitler, yang sedang menyaru. Sinyalemen ini menimbulkan pertanyaan baru soal kedatangan tentara Jerman ke Indonesia. Bagaimana bisa 'diktator Jerman' dan tentara Nazi masuk ke Indonesia?

Mungkin tidak banyak yang tahu, Jerman adalah sekutu Jepang saat Perang Dunia II. Dari penelusuran berbagai sumber, tentara Nazi datang ke Indonesia setelah Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942 lalu.

Mereka datang dengan menggunakan sejumlah kapal selam dengan menyelami Samudera Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka sepanjang 1943-1945. Beroperasinya kapal selam merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz.
Tujuannya, membuka blokade lawan yang dibutuhkan Jepang yang kala itu sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Jepang sendiri akhirnya menyerah kepada sekutu pada 1945.

Kedatangan tentara Jerman dengan kapal selam ini juga diakui Kedutaan Besar Jerman di Indonesia. Dalam websitenya yang dikutip VIVAnews, Selasa 23 Februari 2010, mereka mencatat para tentara ini memang datang ke Indonesia dengan menumpang kapal selam, yang bertugas membawa bahan-bahan baku penting selama perang bagi Angkatan Laut Jerman, dari Indonesia yang ketika itu dijajah oleh Jepang, melalui jalur perairan yang diblokir oleh pihak sekutu. Melalui rencana Angkatan Laut Jerman yang tidak bisa dipertanggungjawabkan tersebut, banyak pelaut yang gugur saat itu.

Pasca menyerahnya Jepang, tentara Jerman yang masih tersisa di Indonesia kemudian hidup tidak menentu. Mereka pindah ke pemukiman di sekitar perkebunan teh di kawasan Cikopo, Megamendung, Bogor hingga akhir hayatnya.

Sepuluh tentara Jerman dimakamkan di pemakaman Arca Domas, dua diantaranya tidak dikenal. Mereka meninggal karena menderita sakit maupun akibat tindak kekerasan. Makam tersebut berada kurang lebih pada ketinggian 1.000 meter dekat kota Bogor, atau sekitar 70 km selatan Jakarta.  Jalan menuju lokasi kecuali beberapa meter terakhir telah diaspal.

Pada awal abad ke-20 daerah tersebut merupakan bagian dari suatu perkebunan teh yang besar milik dua bersaudara asal Jerman Emil dan Theodor Helfferich (kakak tertua mereka Karl Helfferich pada masa Perang Dunia I menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri dan Wakil Kanselir Jerman). Pada tahun 1926 mereka mendirikan tugu peringatan untuk mengenang Skuadron Kekaisaran Jerman di Asia Timur. Monumen tersebut masih berada di tempat tersebut dan merupakan bagian dari makam.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor sendiri memasukkan kompleks pemakaman militer Jerman ini dalam situs sejarah peninggalan Perang Dunia II. Makam yang dibangun pada 15 Juni 1945 itu dianggap memiliki nilai sejarah dan kebudayaan tinggi.

***

Akan halnya dr Poch, yang diduga sebagai Hitler, tidak banyak yang tahu bagaimana ia bisa terdampar di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Saksi mata Ahmad Zuhri Muhtar yang bermukim di Sumbawa Besar kepada VIVAnews hanya menuturkan dia pertama kali melihat dr Poch saat sebuah kapal asing 'Hope' merapat di Sumbawa Besar. Kapal itu membawa obat-obatan dan menyediakan pengobatan gratis.

"Saya ingat, para penumpang dan kru-kru kapal dibawa turun melihat karapan kerbau di dekat rumah saya. dr Poch juga ada di komunitas itu," tambah dia.

Ahmad yang pernah menjadi pasien dr Poch tidak bisa memastikan apakah Poch adalah Hitler. Meski begitu, dia mengakui ada kemiripan Poch dengan foto Hilter yang dia lihat di sejumlah media dan buku.

Kata Ahmad, harus ada kajian yang lebih ilmiah. Bagaimanapun, Hitler adalah sosok besar dalam sejarah yang layak diungkap kehidupannya. "Saat ini soal Hitler seakan terabaikan. Padahal kalau mau menguak kisah ini sudah ada pintu masuknya, dokter Poch di Sumbawa besar dan makamnya di Ngagel," kata Ahmad.

Makam dr Poch di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Utara, Surabaya kini tidak terawat. Di atas makam tersebut kini ditumbuhi rumput liar dan tanaman rambat yang oleh warga sekitar disebut golang galing. Makam itu dikelilingi pagar yang sudah berkarat. Sebuah pintu masuk kini sulit dibuka karena sudah saling menempel akibat karat yang melekat kuat. Pagar itu kini dimanfaatkan penjaga makam untuk menjemur pakaian.

Di nisan berbatu granit hitam abu-abu itu hanya tertulis identitas sang dokter sebagai 'dr GA Poch'. Tidak ditulis kapan Poch lahir dan kapan ia wafat. Selain namanya, identitas lain yang dituliskan hanyalah 'CC 258', yakni nomor urut makam. Dia satu-satunya orang asing yang dimakamkan di pemakaman tersebut. Tidak banyak yang tahu sejarah makam dr Poch karena kuncen makam tersebut sudah meninggal lima tahun silam. Beberapa orang yang pernah mendapat cerita dari sang kuncen mengatakan, dr Poch dimakamkan oleh dokter-dokter yang bertugas di RS Karang Menjangan, tempatnya dirawat di Surabaya.

***
Spekulasi bahwa Hitler meninggal di usia tua di Surabaya, Indonesia diawali artikel di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya bernama dr Sosrohusodo -- dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama 'Hope' di Sumbawa Besar.

Kata Sosrohusodo, Poch, dokter tua Jerman yang dia temui di Sumbawa adalah Hitler.

Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal --- dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.

Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul.

Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya -- yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun.

Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan.

Poch diketahui meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah Ngagel.

Namun, fakta di mana 'sang Fuhrer' menghabiskan akhir hayatnya belum bisa dipastikan sampai saat ini. Ada yang yakin Hitler tewas bunuh diri di sebuah bunker di Berlin pada 30 April 1945.

Ada juga versi lain, bahwa pemimpin Nazi ini meninggal  di Argentina, Brazil, atau sebuah tempat di Amerika Selatan.

source:vivanews




Jika anda suka dengan article ini maka jangan lupa share article ini ke kawan-kawan anda lainnya ya..... click saja tombol-tombol dibawah ini :


share on facebook






Terimakasih Banyak, kawan sudah berkunjung dan membaca artikel ini,Baca artikel lainnya juga ya

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Yaaahhh sepi, komenin artikel "Jejak Hitler di Indonesia" donk!!!!

Leave A Reply

terimakasih kawan, telah membaca artikel ini dan bersedia mengomentarinya, apapun komentar kawan akan diterima.......